selamat datang di Website/blog kota Tondano, sawah | sejuk | embun | ramah | indah | hijau merupakan ciri awal dari kota ini......Gbu....
Cuma Goresan Tinta Orang Biasa, Jang tarukira katu...

HollyWood-Tondano

Hollywood adalah sebuah distrik di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Daerah ini terkenal dengan industri perfilmannya di seluruh dunia. Berdasarkan sensus 2000, Hollywood memiliki populasi 123.436 jiwa.
Antara obyek pariwisata terkenal di Hollywood adalah Hollywood Walk of Fame, Universal Studios, dan tulisan Hollywood di Hollywood Hills. Sejumlah bioskop dan teater bersejarah juga terletak di Hollywood, misalnya Grauman's Chinese Theatre dan Grauman's Egyptian Theatre. Kodak Theatre yang menjadi tempat penyelenggaraan Penghargaan Oscar sejak 2002 juga berada di Hollywood. lau apa hubungannya dengan tondano seperti yang dikatakan di judul posting ini "Tondano-Hollywood"?


seperti kita tahu bahwa hollwood merupakan tempat hadirnya para bintang-bintang yang bersinar sampai ke ujung dunia, seperti bintang -bintang film yang tidak mungkin tidak ada yang mengenal mereka, misalnya saja seperti arnold zwasneger, siapa yang tidak kenal dengan orang yang satu ini.. dialah seorang bintang film yang akhirnya menjadi seorang yang berpengaruh dalam bidang politik yaitu menjadi seorang gubernur dari negara bagian california, nah hubungannya dengan tondano memang jauh sekali jarak antara tondano dengan california namun maksud saya bukanlah orang tondano yang akan menjadi bintang hollywood nantinya namun dimana tondano pada saat ini sudah banyak membina dan melahirkan bintang-bintang yang banyak bersinar didalam maupun diluar negeri, kita mungkin hanya menyangka tondano ini hanyalah sebuah kota kecil yang berpenduduk sekitar 338.000 jiwa saja namun dibalik semua itu tondano memberikan lebih dari apapun yang diinginkan orang yang tinggal di dalamnya.

hollywood di dalam tondano ataukah tondano di dalam hollywood? pertanyaan ini yang mungkin harus kita jawab apakah ketenaran dari kota kita ini dikarenakan yang ada di dalamnya ataukah karena apa yang tidak ada di dalamnya, nah ini merupakan sesuatu hal yang menjadi pemikiran saya beberapa hari ini karena banyak orang berpendapat dan berasumsi bahwa tondano merupakan gudangnya premanisme... siapa yang tidak kenal dengan orang tondano? orang tondano (maaf) lebih dikenal karena keganasannya, prilaku yang lain dari daerah lain yang membuat orang segan dan merasa tidak aman jika dekat dengan orang tondano...
hal seperti inilah yang sangat membuat telinga saya menjadi tidak nyaman, tahukah anda bahwa segala hal yang berbau premanisme telah berusaha dihilangkan oleh pemerintah tondano sejak beberapa tahun yang lalu, kita mamang bisa flash back kebelakang dan mengingat betapa tondano mempunyai karakter perorangan yang sangat keras namun tahukah juga anda bahwa karakter inilah yang membuat kota tercinta tondano ini tetap bertahan sampai sekarang dan masih memberikan makna yang ramah kepada para pengunjungnya..
jika kita memandang tondano dari segi kemajuan pada bidang industri dan yang lainnya mungkin kota tondano memang telah menjadi terkebelakang dengan kota-kota yang lainnya seperti tomohon dan tondano tapi apakah kita orang tondano mau memiliki kota yang padat dan penuh polusi ??? pikirkan kembali.. saya rasa orang tondano harus lebih mensyukuri tentang apa yang terjadi dulu dan sekarang pada kota tondano ini, karena menjadi sebuah hollywood itu merupakan ibaratkan telur di ujung tanduk dimana sedikit resiko saja dapat membumuhanguskan kota kita, jika kita melihat keselurun nusantara ini tidak sedikit orang tondano yang berpengaruh diseluruh enteru nusantara ini, dan itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi kita orang tondano..
biarlah apa yang ditanamkan oleh leluhur nenek moyang kita tetap abadi sampai selama-lamanya
"kami bangga jadi orang tondano"

baca depe lanjutan disini......

sejarah perang di TONDANO

Tahun 1645 timbul keinginan dari kepala-kepala walak Minahasa untuk menjalin kerja sama dengan V.O.C belanda, kepala-kepala walak minahasa itu dengan menggunakan perahu raja siauw pergi berlayar menuju ternate. orang -orang minahasa ini jelas sekali bukan dari golongan walian mereka adalah kepala-kepala walak dan kepala walak minahasa saat itu adalah dari golongan tona'as. kepala-kepala walak tersebut antara lain adalah Umbo (tonsea), Lonta'an (kakaskasen), Lumi (tomohon), taulu (wenang), Kalangi(ares), posuma(tombariri), sawij(juru bahasa).



setelah mengalami berbagai jenis negosiasi akhirnya perjanjian minahasa dengan belanda terjadi pada tahun 1679, pada saat itu dari minahasa diwakili oleh Supit, Lontoh, dan Paat. namun tetap saja perjanjian itu harus mengalami berbagai perubahan yang akhirnya banyak memberikan kesimpulan bahwa minahasa adalah penakluk belanda, karena dengan minahasa belanda dapat mencapai kesepakatan dan perjanjian-perjanjian yang disepakati secara bersama. dengan pendidikan dari orang belanda mereka dapat menyandang peran sebagai "tuan besar" di tanah minahasa, salah satu strategi mereka yaitu mengangkat raja minahasa dengan jabatan sebagai komandan kapiten urbanus puluwang sekitar tahun 1700-1800, selanjutnya dia disebut sebagai " bapa orang minahasa" dengan jabatan tersebut dia kemudian mengatur perdagangan beras serta pajak dan memecat kepala-kepala walak antara lain Loho (tomohon) agus karinda(negeri baru) dia juga menyewa serdadu kora-kora ternate untuk membakar negeri atep kapataran di wilayah pemimpin Tondano, Gerrit Wuisang.

pada tahun 1801 terlihat dari kejauhan ada kapal perang yang sedang menembaki benteng belanda di manado. setelah diselidiki para walak minahasa ternyata itu adalah kapal perang milik inggris dan ketika para walak minahasa mengetahui bahwa ada konflik yang terjadi antara belanda dan inggris maka para walak minahasa meminta bantuan dari inggris untuk mengusir belanda. dalam upaya untuk mengusir belanda maka gerrit wuisang selaku pimpinan Tondano pada saat itu membeli senapan, mesiu, dan meriam dari inggris. sejak saat itu orang Tondano yang memang sudah tidak datang dalam pertemuan-pertemuan di manano dengan orang belanda mulai berdiri menentang belanda dan kebijakan-kebikan yang dilakukan belanda seperti pajak, wajib militer, dan sistim perdagangan beras yang dikembangkan oleh pihak belanda hal itu terjadi sekitar tahun 1760 pada ssaat sejak residen Dur, dan memang orang Tondano dikenal bebal dan tidak bisa diatur secara sembarangan oleh belanda.
ketika residen dur digantikan residen prediger maka orang Tondano mulai menyiapkan diri untuk berperang melawan belanda. dan pada saat perlawanan tersebut dipimpin oleh Tewu(touliang) dan Ma'alengen(toulimambot), orang Tondano merasa yakin bahwa pemukiman mereka yang berada diatas air di muara tepi danau sulit diserang oleh belanda, tidak seperti pemukiman para walak-walak minahasa yang lainnya.

pada tahun 1806 benteng moraya yang berada di minawanua mulai diperkuat dengan pertahanan parit di datar dan pasukan dengan kekuatan 2000 perahu di tepi danau Tondano. pada saat itu pemimpin Tondano mengikat perjanjian dengan para walak-walak tombulu, tonsea, tontemboan, dan pasan-ratahan agar supaya dapat mengirimkan pasukan dan bahan-bahan makanan. dalam penyerangan tersebut pemimpin walak minahasa lainnya yang membantu antara lain adalah andries lintong(likupang, umboh atau ombuk dan rondonuwu(kalabat), manopo dan sambuaga(tomohon), gerrit opatia(bantik), poluakan(tanawangko), tuyu(kawangkoan), walewangko(sonder), keincem(kiawa), talumepa(rumoong), manampiring(tombasian), kalito(manado), kalalo(kakas), mokolengsang(ratahan), sementara pemimpin tondano pada awal peperangan adalah kilapong, sarapung dan korengkeng.

pada bulan mei 1808, para walak minahasa sudah mengeluarkan larangan kepada belanda untuk berada atau datang di pegunungan, tapi pada tanggal 6 oktober belanda malah membawa pasukan besar yang terdiri dari serdadu dari gorontalo, sangihe, tidore, ternate, jawa, dan ambon kemudian mereka mendirikan tenda-tenda di sekitaran tataaran. pada tanggal 23 oktober belanda mulai menembaki benteng moraya tondano dengan meriam 6 pond, namun belanda tidak pernah menyangka bahwa akan mendapatkan perlawan dari pihak tondano, bahkan tanpa disadari belanda tenda-tenda belanda di tataaran mendapatkan kejutan setelah pasukan berani mati pimpinan rumapar, walalangi, walintukan dan rumambi menerang ditengah malam. pada bulan november, pimpinan utama belanda prediger terluka kepalanya akibat terkena tembakan di tataaran dan terpaksa dia digantikan oleh wakilnya letnan j.herder. perang Tondano kemudian bertambah panas yang kemudian ditandai dengan perang darat dan perang perahu. pada tahun 1809 pemimpin Tondano mendatangkan perahu kora-kora dengan memotong logistik bahan makanan dari kakas ke Tondano pada tanggal 14 april, pasukan jacob korompis menyerang tenda-tenda belanda di koya. serangan yang dilakukan pada malam hari itu, akibat serangan itu jacob berhasil merebut amunisi dan senjata milik dari belanda.

pada tanggal 2 juni 1809, belanda kemudian melakukan perjanjian dengan para kepala-kepala walak minahasa lainnya, kemudian dikarenakan kekurangan pasokan bahan makanan akhirnya pasukan-pasukan yang bukan orang Tondano terpaksa mulai meninggalkan benteng moraya. dan yang tertinggal adalah pasukan dari tomohon dan kalabat. dalam bukunya "Oud Tondano" penulis L Mangindaan terbitan tahun 1871 pada halaman 368-369 menulis bahwa setelah benteng moraya telah menjadi sunyi, dan sudah tidak terdengar lagi teriakan-teriakan perang serta bunyi-bunyi letusan senjata. lalu pada suatu malam, belanda menyerang benteng itu dan membakar rata dengan tanah, serangan itu dilakukan pada malam hari pada tanggal 4 agustus dan pagi 5 agustus 1809, dalam penyerangan tersebut, belanda kemudian membumihanguskan benteng moraya Tondano, pada bulan september 1909 (bundel ternate no 1160), belanda baru mengetahui bahwa pimpinan utama dari perang di Tondano adalah Tewu (touliang), Lontho( kamasi-tomohon), Mamahit(remboken), matulandi(telap) dan theodorus lumingkewas(touliang). mereka adalah kepala-kepala walak yang disebut "Mayoor" atau Tona'as perang Tondano.

baca juga tentang koya di sini dan CIA tondano

baca depe lanjutan disini......

Perang Tondano (perangtondano.com)

Perjuangan melawan praktek kolonialisme terjadi di mana-mana di seluruh Indonesia. Walaupun tercatat di sejarah nasional orang Minahasa yang cinta damai ini pernah membangkitkan perlawanan terhadap kaum kolonial Belanda. Perlawanan terhadaap ketidak adilan itu sudah dilakukan beberapa kali terakhir terjadi tahun 1808 - 1809.


Dalam sejarah, perlawanan orang Minahasa itu lebih terkkenal dengan nama "Perang Tondano" yang dipimpin oleh Sarapung dan Korengkeng, serta Matulandi, Tewu, Lumngkewas, Sepang, Kepel termasuk Lontoh dari Tombulu dan Mamahit dari Remboken. Di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh tersebut orang Minahasa membangkitkan perlawanan menentang ketidakadilan kolonial.

Sumber sengketa waktu itu muncul ketika Belanda membutuhkan bantuan tenaga pemuda-pernuda Minahasa untuk dikirim melawan Inggris yang sudah mengancam pulau Jawa. Orang Minahasa berpendapat bahwa para pemuda itu lebih dibutuhkan untuk mempertahankan Minahasa dari pada dikirim ke tempat lain. Belanda memaksa sambil memberikan iming-iming dan hadiah kepada para pemimpin Minahasa yang mau membantu mereka.

Ternyata permintaan tenaga bantuan pemuda dan iming-iming hadiah ditolak oleh seluruh rakyat Minahasa dalam pertemuan/musyawarah Minahasa di Tondano. Belanda menuduh tokoh-tokoh Tondano menggagalkan politik mereka sehingga menyampaikan ancaman akan menyerang Tondano dengan kekuatan militer. Ancaman tersebut disambut dengan persiapan perang di pusat perlawanan Tondano. Itulah sebabnya peperangan itu terkenal dengan sebutan "Perang Tondano".

Pasukan militer Belanda yang lebih kuat persenjataannya beberapa kali datang menyerang namun benteng pertahanan Tondano ternyata kuat sekali, bahkan Residen Belanda bernama Prediger dilaporkan tertembak dunia. la diganti oleh Residen Balfour yang mendatangkan bala bantuan lebih besar dengan persenjataan lebih lengkap.

Awal Agustus 1809 pertahanan utama orang Tondano berhasil dikepung dari arah daratan maupun dari arah danau. Pusat kekuatan Tondano di tempat yang kemudian dinamakan Minawanua menjadi ajang pertempuran sengit beberapa hari lamanya.

Pada siang tanggal 4 Agustus 1809 pertahanan itu bobol dan pertempuran belangsung dari rumah ke rumah. Dini hari tanggal 5 Agustus 1809 pertahanan dan perkampungan Tondano dibumihanguskan musuh.

Semua penghuninya mulai dari anggota pasukan perlawanan Tondano hingga orang-orang tua perempuan dan anak-anak tidak ada yang tersisa. Semuanya tewas terbunuh. Sampai waktu itu, belum pernah ada perlawanan yang seluruh warganya dimusnakan musuh, seperti halnya yang terjadi dalam Perang Tondano.

Sejak kemerdekaan Indonesia, pemerintah dibantu oleh para ahli sejarah berusaha menulis sejarah Indonesia, namun ternyata patriotisme dan heroisme yang muncul dalam Perang Tondano tidak pernah menghiasi buku-buku sejarah nasional. Itulah sebabnya kisah heroik Perang Tondano perlu diangkat untuk turut memperkuat nasionalisme Indonesia demi meningkatkan dan melestarikan semangat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui bahwa proses perjuangan bangsa menuju terciptanya Indonesia merdeka, adalah memakan waktu panjang yang telah diawali dengan pergerakan perlawanan bersenjata oleh rakyat di hampir seluruh pelosok tanah air termasuk di Daerah Sulawesi Utara dikenal dengan peristiwa bersejarah yaitu Epos Perang Tondano di Minahasa yang puncaknya terjadi pada akhir perang Tondano tahun 1809 di wilayah Minawanua di sebuah lokasi di tepi Danau Tondano yang diberi nama Benteng Moraya. Karena di tempat itu telah terjadi pertempuran habis-habisan yang memakan korban sangat banyak sampai tidak ada yang tersisa.

Sudah banyak pahlawanan pejuang kemerdekaan kita dicatat dan diakui sebagai Pahlawan Nasional, namun masih lebih banyak lagi yang belum diperkenalkan dengan kadar kepahlawanannya yang tidak kalah bobotnya sebagai pahlawan yang memelopori dan merintis perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Untuk menggali sejarah itu guna diperkenalkan pada masyarakat bangsa terutama bagi generasi mudanya dalam usaha memberi infomasi dan motivasi kepahlawanan, banyak cara dan bentuk yang dapat dilakukan termasuk melalui karya seni budaya dan sarana komunikasi teknologi elektronika modern film atau sinetron di televisi dan pagelaran kolosal.

Kisah perang Tondano yang berakhir pada awal abad ke XIX di saat berkuasanya VOC di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Daindels, telah mengundang perhatian yang cukup besar karena perlawanan rakyat Minahasa di Sulawesi Utara terhadap penjajahan Belanda tidaklah tanggung-tanggung.

Mereka berperang sampa tetes darah penghabisan di Benteng Moraya bersama para pemimpinnya terdiri dari Lonto, Tewu, Matulandl, Mamahit, Korengkeng. Lumingkewas, Sarapung, Sepang, Kepel serta lain-lainnya yang kisahnya tidak kalah dengan pahlawan nasional seperti Pattimura, Hasssanudin, Diponegoro dan Imam Bonjol.

Pada tanggal 5 Agustus 1809, waktu sang surya menampakan cahayanya di ufuk timur, yang disinari bukan lagi Minawanua di hari kemarin, tetapi tinggal puing-puing berserakan, ditaburi mayat-mayat, bau amis darah dan tumpukan bara api. Tak ada lagi anak negeri yang bangun bersama sang surya berjaga-jaga di Benteng Moraya dan Benteng Paapal. Semuanya telah musnah bersama Wanua tercinta. Inilah akhir dari suatu perjuangan panjang rakyat Minahasa dalam mempertahankan eksistensi martabat kebangsaannya. Hanya dengan satu kalimat dinyatakan oleh Dr. E.C. Molsborgen, yang menggambarkan semangat dan jiwa perjuangan Minawanua: "de dappere tegenstand tegen een overmacht had de Tondaneers niet gebaat" lihat (Supit 1991:84).

Sekarang ini, di bulan Agustus 2009, perang Tondano telah berusia. 200 tahun (1809-2009). Keberadaanya di tengah dinamika kehidupan bangsa dan bernegara, sungguh merupakan suatu momentum untuk menyatakan bahwa perang perlawanan rakyat Minahasa terhadap penjajah Belanda yang kita kenal dengan Perang Tondano, bukanlah kisah baru yang ditulis atau dibicarakan oleh banyak kalangan. Akan tetapi, berdasarkan referensi kepustakaan, catatan-catatan, dan surat-surat atau dokumen sejarah bangsa Eropa, terutama Belanda, banyak kita jumpai bukti-buktinya.

Ada lima penulis lokal (Minahasa) yang mengekspresikan rasa kepeduliannya terhadap kisah heroik sejarah perang Tondano, yang dideskripsikan dalam buku. Mereka adalah: 1) Giroth Wuntu 1962, 2) Frans Watuseke 1968, 3) Eddy Mambu 1985, 4) skripsi dari Sam A. H Umboh 1985, 5) Bert Supit 1991. Sebagai tulisan/buku yang bernilai sejarah perjuangan, dapat dikatakan bahwa secara umum ke-lima penulis tersebut memiliki pandangan yang sama tentang kisah heroik perjuangan orang Minahasa melawan Kolonial Belanda. Bagi mereka, Perang Tondano masih tetap merupakan suatu riwayat peperangan yang gagah berani, paling lama (1661-1809), dan utama, melebihi dari kaidah-kaidah heroik lainnya yang pernah dialami oleh orang Minahasa, seperti perang dengan Bolaang Mongondouw, pertempuran dengan perompak Mangindanouw, atau perang antara Minahasa-Spanyol.

Namun demikian, suatu hal yang berkaitan dengan aspirasi masyarakat Minahasa atas kisah heroik Perang Tondano tersebut, adalah berkenaan dengan isu sejarah nasional dimana jasa para pahlawan Perang Tondano sebagai kusuma bangsa belum dilegitimasi dalam arsip nasional sebagaimana yang diberlakukan kepada Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol.

Dengan kata lain, belum diakui sebagai Pahlawan Nasional. Padahal, sejarah mencatat bahwa dalam mempertahankan harkat dan martabat sebagai Tou-Minahasa maupun sebagai anak bangsa dalam melawan perlakuan kesewenang-wenangan kompeni Belanda bukanlah suatu kenyataan sejarah yang 'biasa-biasa saja'. Akan tetapi, sebuah Epos (kisah heroik) Perang Tondano, yang mesti diterahkan dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.


sumber : perangtondano.com
baca juga tentang hal lain tentang tondano di sini dan di sini
dan tentang iklan di sini

baca depe lanjutan disini......

I Miss You Tondano

i miss you Tondano... hanya itu yang dapat terucap saat ini ketika kita merindukan kampung halaman kita tempat dimana kita dibesarkan serta tempat dimana kita memandang mendengar dan merasakan perubahan yang terjadi dari tahun ke tahun, yang ada hanyalah rasa penasaran akan apa yang telah terjadi di tanah tondano dan apa yang telah berubah serta berganti di sana? apakah telah ada lapangan terbang? ataukah telah ada kereta api bawah tanah dengan kecepatan 100km/jam yang dikendalikan dengan kekuatan listrik statis, mungkin khayalan-khayalan seperti inilah yang terus mengingatkan saya akan indahnya tanah tondano saat aku pulang nanti..


Tondano people atau orang tondano yang tersebar di seluruh indonesia bahkan di seluruh dunia pasti masih dapat mengingat bagaimana suasana dirumahnya, bagaimana bentuk dan kodisi rumah kita, wajah-wajah yang menemani kita setiap harinya dengan petualangan kita, wajah-wajah yang sering kita sebut dengan teman, sobat, kawan, sob, bro, coy, man, woi, hei, juga pa' ma', papi, mami, bahkan seseorang yang dulu mungkin kita panggil dengan sebutan sayang, tona', maitua, yang mengantarkan kita pada pengalaman hidup yang lebih berarti dan lebih bermakna, bahkan ada pula yang berganti dari maitua yang hanya menemani kita beberapa jam sehari menjadi maitua yang menemani kita full time pada full week dan full month
in a full year.
tondano banyak memberikan pengalaman/kejadian yang sulit untuk dilupakan walau kita terpisah ribuan bahkan jutaan mil jauhnya, tondano seperti membekas pada hati kita dan mengalir dalam darah kita.
yang kita ketahui hanyalah kita adalah orang tondano, yang penuh dengan semangat yang dulunya ditanamkan para leluhur kepada kakek dan ayah kita, dan setelah melalui berbagai kebudayaan dan tantangan kehidupan di jaman sekarang dengan bangga saya dapat terus berkata bahwa saya tetaplah orang tondano yang masih merasakan semangat, kehangatan, keramatamahan, dinginnya dan indahnya kota tondano
"not because I live here
but because I was born and grow in here
and in my blood there is my city" i miss you Tondano
baca juga tentang koya disini

baca depe lanjutan disini......

Tondano people

tondano people atau orang tondano..
jika dilakukan survey untuk mengetahui ciri khasnya orang tondano maka mungkin akan diketahui bahwa orang tondano memiliki warna kulit bervariasi, memiliki bentuk wajah bervariasi, memiliki bentuk hidung bervariasi, bentuk bibir bervariasi, bentuk serta warna mata bervariasi, jenis rambut bervariasi, tinggi badan bervariasi serta berat badan yang bervariasi. hal ini artinya orang tondano tidak dinilai dari luarnya saja namun dari cara dan tingkah-laku serta sifatnya..

dari cara bicara kita dapat tau mana orang tondano mana orang tombatu (pasti dong)
dari cara berkata kita dapat tau mana orang tondano mana orang kawangkoan (limya,pisyang,kitya...)
dari cara pemilihan kata kita dapat tau mana orang tondano dan mana orang tondano pante (terkesan kasar)
dari cara berjalan kita dapat tau mana orang tondano asli dan mana yang bukan (orang tondano berjalan dada dibusungkan, perut ditarik, pandangan kedepan, tangan dilenggang dan kaki dibuka besar) hehe kidding
dari cara meludah kita dapat tau yang mana orang tondano dan mana yang tidak (orang tondano meludah tidak sembarang meludah tapi dengan perhitungan dan penghayatan dan tidak berbunyi cRoot, Criit, Cuhh, cuihhh.. namun berbunyi sssttttt... ) sadap...
dari cara memukul kita dapat membedakan yang mana orang tondano dan mana orang kakas (orang tondano pake teknik&strategi orang kakas pake peda, golok, cakram, panah wayer)hehe kurang sama katu...
dari cara berenang kita dapat tau mana orang tondano dan mana yang bukan (orang tondano bisa berenang sambil makan, sambil mandi, sambil kencing, sambil tidurpun bisa hehehe orang tondano gituh lohhh_)
dan dari cara menulis dapat diketahui penulis ini lamu.....heheh peace i love you Tondano
jangan lupa baca juga tentang perang tondano dan koya tondano

baca depe lanjutan disini......

sedikit tentang Tondano

Sedikit tentang tondano, kenapa hanya sedikit? kenapa tidak banyak... ya mungkin dikarenakan saya pun tidak tau terlalu banyak mengenai tondano secara detail, walupun saya bukan mengandung darah orang tondano secara mutlak namun tanah yang pertama kali diinjak oleh kakiku adalah tanah tondano yang tercinta ini, ya benar saya lahir dan menjalankan pendidikan di tondano, bergaul dengan orang2 tondano serta berkembang dan berpetualang di tondano ini


dan jika mau jujur, tondano merupakan daerah yang tidak akan pernah dilupakan oleh rakyatnya sendiri walaupun berjuta-juta pulau sarta samudra dilalui(samudra emang juta ya??) namun eratnya kenangan serta panggilan alam tondano tidak akan pernah hilang dalam benak orang-orang tondano, hal inilah yang menjadikan orang-orang tondano selalu saling menopang dan membantu sesamanya(koleha) jika berada di tanah orang, tidak memandang status keluarga, materi dan apapun selama dia merupakan orang tondano maka akan diperlakukan selayaknya saudara karena seperti kita tau apa ayo?? yup (TORANG SAMUA BASUDARA!!)
tondano berada di indonesia tentunya negara yang menurut saya sangat terkenal di mancanegara, bukan hanya karena bom, kerusuhan, demo, polusi, dan korupsi namun juga karena hal-hal yang posifif seperti RCFM, WOC, CTI, and more and more, hal ini yang telah mengangkat derajat negara kita indonesia
tepat di indonesia tondano terdapat ditengah-tengah indonesia yaitu pada pulau yang berbentuk "K" sulawesi, dan jika diperhatikan pada peta sulawesi kita dapat melihat tondano pada sulawesi bagiannya yang utara, SULUT(sulawesi utara)
dan jika lebih diperhatikan lagi anda dapat melihat kota tondano berada di kabupaten minahasa, tepatnya merupakan ibukota kabupaten minahasa.
keadaan alam kota tondano sangat-sangat indah...emmm
dengan sawahnya, dengan danaunya, dengan makananya dan dengan cewe-cewenya hehehehe kidding..
bagi orang yang biasa di daerah panas mungkin akan menganggap tondano kota yang dingin yup... tondano memiliki titik dingin puncak pada jam 5 subuh yaitu rata-rata 3 derajad celcius(dinginnya)
dengan suhu seperti ini tidak dianjurkan jualan es krim di tondano (hehe becanda). namun hal tersebut sudah biasa bagi masyarakat kota tondano yang banyak memiliki mata pencaharian seorang petani, yang harus bangun kira-kira jam 4 pagi dan menuju ke kebun atau sawah untuk melakukan keahliannya.. dan menurut saya hal ini sudah jarang ditemui pada daerah-daerah maju seperti perkotaan yang sudah tidak memiliki lahan untuk dimanfaatkan secara alami.
orang tondano seharusnya bangga dengan tanah mereka dan terus mempertahankannya dari tangan-tangan orang asing yang tidak bertanggung jawab, tanah tondano merupakan warisan yang tak ternilai harganya.
sampai kapanpun tanah tondano selalu mempunyai ikatan yang kuat dengan masyarakatnya dan ikatan ini juga kuat pada masing-masing desa yang membentuk tondano ini.
seperti pepatah tua yang berkata "love u'r land like u love u'r self and keep u'r land like u keep u'r hand"

baca depe lanjutan disini......

jangan lupa isi Buku Tamu...

tamang blog laeng

Hehehehehehe

Hehehehehehe

Hillsong

Hillsong

make the world a better place

Jaga Lingkungan Kita

Jaga Lingkungan Kita
setiap hari sekitar 136 pohon ditebang di indonesia

bersatu untuk maju

Dari Blog Lain

PEACE !!!

PEACE !!!
damai itu indah